Rabu, 29 Oktober 2014

FF

1 Day To 2 Days

Duk.. Duk.. Duk...
                Selalu,, selalu bunyi itu yang aku dengar setiap sore selama 3 minggu terakhir ini, bola basket berwarna orange ke merah-merahan itu yang selalu dipukul-pukulnya ke lahan mulus. Kursi kayu di bawah rimbunnya pepohananlah ia biasa beristirahat. Aku selalu pergi ke sekitar tempat itu untuk memetik raspberry di kebun keluargaku, maka dari itulah aku sering melihatnya. Sambil melirik-lirik kecil aku sering melihatnya memasukkan bola ke dalam ring basket. Dia adalah seorang laki-laki dengan postur tubuh tinggi dan berkulit putih, kacamata hitamnya selalu tergantung di hidungnya yang besar. Aku selalu mencari kesempatan duduk di satu-satunya kursi yang ada di sana, tempat biasa ia beristirahat. Tapi selalu saja, saat aku duduk disana pasti dia masih bermain,bahkan pergi tanpa istirahat terlebih dahulu. Takhayal bahwa ia tak melihatku, kurasa ia tipe yang cuek. Hingga kejadian yang ku tunggu-tunggu itu tiba...
                Sehabis memetik raspberry aku menyempatkan waktu untuk duduk dikursi kayu agar dapat melihatnya bermain lebih dekat. Aku mengambil kesempatan utntuk membersihkan buah raspberryku yang sebenarnya tidak kotor. Perlahan aku melihat ia mendekat ke kursi yang aku duduki saat itu, rasa senang tak terkirakan saat dia berada di sebelahku. Dia hanya diam memandang ke bawah kakiku melihat daun rasberry beserta airnya yang tak sengaja aku jatuhkan dan terinjak. Dia masih diam. Walau dia berada disampingku,rasanya ia tak ingin menatapku. Lalu dia pergi.
                “Daadd,, lihat raspberry di kebun kita ini,lagi-lagi habis.” tutur adikku itu.
                “Yang benar saja,, sudah 2 minggu belakangan ini kita tidak mendapatkan raspberry sama sekali. Siapa yang telah mengambil?”
                “Apakah kakak masih menyukai raspberry dan memakannya?”
                “Jera jangan katakan itu lagi!” kekesalan di wajah Ayah semakin terlihat.
Yaa.. Aku tak boleh mengambill raspberry milik keluargaku lagi, kalau aku mengambil terus-erusan kasihan keluarga ku, sebaiknya aku kembali ke kotak kayu besar di dalam tanah itu.

                                                                                                                “Diikutsertakan dalam Flash Fiction Pipet”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar